Hujan
badai dan petirnya….
Mengingatkan
saya pada satu saat, saat dimana saya benar-benar sendiri dan tak punya siapapun
yang dapat saya ajak bicara apalagi untuk mendengarkan keluh kesah saya pada
saat itu. Saat-saat yang sangat memilukan sekali yang pernah saya alami dan tak
pernah saya alami lagi sampai detik ini dan saya tak berharap untuk
mengulanginya lagi kapanpun dan dimanapun.
Saat
saya harus meninggalkan semuanya, harus meninggalkan mamah dan papah,
teman-teman, kebiasaan saya dan bahkan saya harus meninggalkan dan melupakan
sejenak apa yg saya yakini yang telah membawa hidup saya sebaik ini.
Ada
hal yang benar-benar membuat saya tak berdaya saat saya sendiri di sana nan
jauh, yaitu saat-saat saya merindukan mamah dan papah serta apa yang saya sebut
sekarang adalah rumah kedua saya (Vihara Dhamma loka).
Mamah
sangat saya rindukan saat itu, saya kangen sekali dengan beliau saat itu. Saya
kangen saat-saat mamah membangunkan saya tidur, kangen saat mamah memarahi saya
akibat kesalahan yang saya lakukan, kangen dengan segala nasihat dan saran
beliau, kangen saat kita bersama bercakap-cakap dan bercanda di pagi hari,
kangen saat mamah sangat setia mendengarkan curhatan saya bahkan beliau
mengyimak setiap kata-kata yang saya ucapkan tak satupun terlewatkan.
Dan
rumah kedua saya adalah yang paling saya rindukan pada saat itu, saat di Grogot
dimana tak ada satupun vihara yang dapat saya datangi, saya baru sadari betapa
berharga dan pentingnya rumah kedua saat itu. Kerinduan akan sebuah suasana
yang hikmat dan tenang dan kehausan saya akan sebuah kebenaran tak dapat
terpenuhi dengan baik pada saat itu. Tapi pada saat itulah iman dan keyakinan
saya terhadap apa yang sebelumnya sudah saya yakini semakin membawa saya yakin
dan benar-benar yakin pada saat saya membuka dompet dan melihat gambar guru yg
saat itu saya rindukan, saat melihat gambar guru itu saya baru dan sadar
ternyata Buddha benar-benar ada dimanapun saya berada, beliau tak pernah
meninggalkan saya sedetikpun dan akan hadir saat saya butuh seorang sosok untuk
menguatkan saya dalam keadaan yg tersulit dalam hidup ini.
Walaupun
hanya sebuah gambar, tapi saat itu saya melihat Buddha benar-benar hidup, saya
melihat senyum yang sangat indah dari bibirnya dan kedipan mata yg seolah
mengingatkan saya bahwa dia ada bersama saya dan saya tak sendiri. Sejak saat
itulah saya selalu bercerita tentang apa yang saya rasakan.