Selasa, 20 Oktober 2015

Hujan badai dan petirnya….

Hujan badai dan petirnya….
Mengingatkan saya pada satu saat, saat dimana saya benar-benar sendiri dan tak punya siapapun yang dapat saya ajak bicara apalagi untuk mendengarkan keluh kesah saya pada saat itu. Saat-saat yang sangat memilukan sekali yang pernah saya alami dan tak pernah saya alami lagi sampai detik ini dan saya tak berharap untuk mengulanginya lagi kapanpun dan dimanapun.
Saat saya harus meninggalkan semuanya, harus meninggalkan mamah dan papah, teman-teman, kebiasaan saya dan bahkan saya harus meninggalkan dan melupakan sejenak apa yg saya yakini yang telah membawa hidup saya sebaik ini.
Ada hal yang benar-benar membuat saya tak berdaya saat saya sendiri di sana nan jauh, yaitu saat-saat saya merindukan mamah dan papah serta apa yang saya sebut sekarang adalah rumah kedua saya (Vihara Dhamma loka).
Mamah sangat saya rindukan saat itu, saya kangen sekali dengan beliau saat itu. Saya kangen saat-saat mamah membangunkan saya tidur, kangen saat mamah memarahi saya akibat kesalahan yang saya lakukan, kangen dengan segala nasihat dan saran beliau, kangen saat kita bersama bercakap-cakap dan bercanda di pagi hari, kangen saat mamah sangat setia mendengarkan curhatan saya bahkan beliau mengyimak setiap kata-kata yang saya ucapkan tak satupun terlewatkan.

Dan rumah kedua saya adalah yang paling saya rindukan pada saat itu, saat di Grogot dimana tak ada satupun vihara yang dapat saya datangi, saya baru sadari betapa berharga dan pentingnya rumah kedua saat itu. Kerinduan akan sebuah suasana yang hikmat dan tenang dan kehausan saya akan sebuah kebenaran tak dapat terpenuhi dengan baik pada saat itu. Tapi pada saat itulah iman dan keyakinan saya terhadap apa yang sebelumnya sudah saya yakini semakin membawa saya yakin dan benar-benar yakin pada saat saya membuka dompet dan melihat gambar guru yg saat itu saya rindukan, saat melihat gambar guru itu saya baru dan sadar ternyata Buddha benar-benar ada dimanapun saya berada, beliau tak pernah meninggalkan saya sedetikpun dan akan hadir saat saya butuh seorang sosok untuk menguatkan saya dalam keadaan yg tersulit dalam hidup ini.

Walaupun hanya sebuah gambar, tapi saat itu saya melihat Buddha benar-benar hidup, saya melihat senyum yang sangat indah dari bibirnya dan kedipan mata yg seolah mengingatkan saya bahwa dia ada bersama saya dan saya tak sendiri. Sejak saat itulah saya selalu bercerita tentang apa yang saya rasakan.

LIDAH TAK BERTULANG

LIDAH TAK BERTULANG

Seseorang menceritakan gosip mengenai tetangganya & dalam beberapa hari saja, seluruh lingkungan mengetahui ceritanya.
Tetangganya itu tentu saja sakit hati.

Beberapa hari kemudian, orang yang menyebarluaskan gossip tersebut menyadari bahwa ternyata gosip itu tak benar. Dia menyesal, lalu datang kepada orang yang bijaksana untuk mencari tahu apa yang harus dilakukannya untuk memperbaiki kesalahannya itu.
"Pergilah ke pasar" kata orang bijak itu, "belilah kemoceng, kemudian dalam perjalanan pulang, cabuti bulu ayam di kemoceng & buanglah satu persatu di sepanjang jalan pulang."
Meski kaget mendengar saran itu, si penyebar gosip tetap melakukan apa yang disuruh kepadanya.
Keesokan harinya orang tersebut melaporkan apa yang sudah dilakukannya.

Orang bijak itu berkata lagi, "Sekarang pergilah & kumpulkan kembali semua bulu ayam yang kau buang kemarin & bawa kepadaku" Orang itu pun menyusuri jalan yang sama, tapi angin telah melemparkan bulu-bulu itu ke segala arah.
Setelah mencari selama beberapa jam, ia kembali hanya dgn tiga potong bulu. "Lihat kan?" kata orang bijak itu, "sangat mudah melemparkannya, namun tak mungkin mengumpulkannya kembali, begitu pula dengan gossip.

Tak sulit menyebarluaskan gossip, namun sekali gossip terlempar, 7 ekor kuda pun tak dapat menariknya kembali."PESAN MORAL,
Hidup & mati seseorang dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.
Lidah memang suatu anggota yang kecil, tapi sangatlah besar kuasanya.

Bila kita salah menggunakan, maka hancurlah semua yang ada disekitar kita. Lidah yang lembut adalah pohon kehidupan, Tapi lidah yang jahat melukai hati orang lain!
JAGALAH LIDAH untuk selalu mengucapkan kata-kata yang positif.

Sumber: Sumber lain

Beda gelas kristal mahal dan gelas minum biasa?

Beda gelas kristal mahal dan gelas minum biasa?

Gelas kristal, hanya dipajang, dan begitu retak dikit, selesai hidupnya karena nilainya lsg menurun bahkan gak ada.

Gelas biasa, dipake buat minum, kadang meski sudah retak pun, dia msh berguna, apalagi kalo stok gelasnya kebetulan terbatas, hihihi..;p

Apa maksudnya?

Sederhana aja, kadang mereka yg dibesarkan dlm suasana yg terlalu nyaman (sekali lg gak smua dr mereka seperti itu ya, krn ini contoh global aja, tq), dapet masalah dikit dlm hidupnya, lsg lebay dan gubrag abiez, seakan langit runtuh, hidup tidak adil padanya dan dunianya berakhir, smuanya terjadi, karena dirinya tak pernah dibiasakan berproses :)

Sebaliknya, mereka yg mungkin dibesarkan dlm suasana yg kurang nyaman, seringkali lebih mampu dalam menghadapi kerasnya hidup krn sudah terbiasa, hingga pada saatnya nanti, bila mereka mencapai kesuksesan, mungkin beberapa diantara mereka (tidak semuanya sih, karena ada bbrp diantaranya yg punya mental bales dendam negatif jg, he3x), akan hidup jauh lebih mampu berempati kepada orang lain dan jg bijaksana.

Jadi...

Bukan kondisi lingkungan di luar diri kita yg perlu diperhatikan, tapi lebih ke bagaimana batin kita dlm merespon alur kehidupan yg tidak pernah pasti ini, karena utk memperoleh pelangi kebahagiaan, kita harus bersedia menerima satu paket, mentari berkah dan juga hujan kesulitan hidupnya kan :)

Smg share kecil ini bermanfaat dan smg slalu bahagia utk anda semua :)


Sumber: Sumber lain.


http://nasional.kompas.com/read/2015/10/20/13201101/Reporter.Cilik.Cecar.Jokowi.Pertanyaan.Kenapa.Bisa.Jadi.Presiden?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Khlwp